Murataraklik.com — Kelangkaan Gas Elpiji 3 kilogram kembali menghantui warga Desa Bumi Makmur, Kecamatan Nibung. Sejak pagi hari, puluhan warga terlihat memadati pangkalan gas di Blok C milik Eko H, membentuk antrean panjang demi mendapatkan tabung gas bersubsidi tersebut.
Pantauan di lapangan menunjukkan, harga Gas Elpiji 3 Kg di tingkat pangkalan masih dipatok Rp30.000 per tabung. Namun, kondisi berbeda terjadi di tingkat pengecer. Di sejumlah warung, harga melonjak drastis hingga Rp45.000 bahkan menembus Rp50.000 per tabung — ironisnya, stok di warung pun sangat terbatas.
“Kami serba susah. Kalau di pangkalan harus antre lama, tapi kalau beli di warung harganya mahal dan belum tentu ada,” keluh seorang warga berinisial M dengan nada kecewa.
Menanggapi keluhan warga, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop) Kabupaten Musi Rawas Utara, Kodri, menegaskan bahwa berkurangnya kuota LPG 3 Kg pada 2026 merupakan kebijakan nasional Pertamina, bukan keputusan pemerintah daerah.
“Pengurangan kuota LPG 3 Kg tahun 2026 ini adalah kebijakan nasional Pertamina. Pemerintah daerah hanya menerima dan mengawasi distribusinya,” jelas Kodri.
Ia menambahkan, penyaluran gas dari agen ke pangkalan dilakukan secara bertahap sesuai aturan Pertamina untuk menghindari penumpukan tabung di satu titik.
“Distribusi dilakukan bertahap agar tidak terjadi penimbunan atau penumpukan gas di pangkalan tertentu,” ujarnya.
Kodri juga mengingatkan seluruh pangkalan agar memprioritaskan penjualan kepada warga sekitar dengan harga sesuai ketentuan dan tidak menyalurkan gas ke warung.
“Kami minta pangkalan fokus melayani masyarakat sekitar. Jangan menjual ke warung, karena harga di tingkat pengecer sulit dikendalikan dan berpotensi memicu keresahan,” tegasnya.
Disperindagkop Muratara menegaskan akan terus melakukan pengawasan ketat terhadap agen dan pangkalan guna memastikan distribusi Gas Elpiji 3 Kg berjalan sesuai aturan, tepat sasaran, dan tidak memberatkan masyarakat. (Habi)



