MURATARA | Murataraklik.com — Sudah berbulan-bulan jembatan gantung di Desa Batu Kucing, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, terputus akibat banjir besar. Namun, hingga Selasa (28/10/2026), akses vital yang melintasi Sungai Rawas itu belum juga diperbaiki. Warga pun masih harus mengandalkan perahu dengan biaya tambahan untuk menyeberang.
Kerusakan jembatan yang terjadi pada 11 Mei 2026 tersebut bukan persoalan sepele. Dengan panjang kerusakan mencapai sekitar 130 meter, putusnya jembatan berdampak langsung terhadap mobilitas dan aktivitas sehari-hari masyarakat.
Banjir yang melanda Muratara pada 7–12 Mei 2026 itu dilaporkan menghancurkan sebagian fondasi jembatan. Derasnya arus Sungai Rawas membuat sejumlah struktur ambrol, sementara bagian jembatan yang tersisa masih menggantung di tepi sungai.
Kini, masyarakat harus menghadapi kenyataan bahwa akses penghubung yang selama ini digunakan telah terputus. Untuk menyeberangi sungai, warga terpaksa menggunakan perahu dan mengeluarkan ongkos tambahan.
Kondisi tersebut memunculkan harapan sekaligus pertanyaan di tengah masyarakat: kapan jembatan yang menjadi akses penting warga itu dapat kembali dibangun?
Warga Terbebani Biaya Penyeberangan
Salah seorang warga setempat, Tino (37), mengatakan jembatan gantung tersebut putus saat banjir besar menerjang wilayah Kecamatan Rawas Ilir pada 12 Mei 2026.
“Waktu banjir besar itu, bukan hanya jembatan yang rusak, tapi ada juga rumah warga rusak,” kata Tino, Selasa (12/10/2026).
Menurutnya, luapan Sungai Rawas saat kejadian begitu besar hingga mencapai teras rumah warga. Bahkan, air dilaporkan masuk ke rumah-rumah yang berada sekitar 50 meter dari lokasi jembatan.
Ia menegaskan, keberadaan jembatan gantung tersebut sangat penting bagi masyarakat karena menjadi akses penghubung antarwilayah, termasuk untuk menunjang aktivitas warga lintas kecamatan.
Sejak jembatan putus, masyarakat harus menggunakan jalur alternatif melalui sungai. Situasi ini bukan hanya menyulitkan mobilitas, tetapi juga menambah pengeluaran warga yang membutuhkan penyeberangan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Kita berharap secepatnya dibangun lagi, supaya aktivitas warga bisa normal seperti dulu, sebab jembatan gantung tersebut merupakan sarana penting bagi warga Desa Batu Kucing,” ujarnya.
Bagi warga, pembangunan kembali jembatan bukan sekadar memperbaiki bangunan yang rusak. Lebih dari itu, jembatan tersebut dibutuhkan untuk memulihkan akses dan mempermudah aktivitas masyarakat yang selama ini terdampak.
Pemkab Sebut Perbaikan Diupayakan pada 2027
Terpisah, Bupati Musi Rawas Utara, H. Devi Suhartoni, melalui Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Muratara, Zazili, S.Sos., menyampaikan bahwa pemerintah daerah masih berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat untuk mengupayakan penanganan jembatan tersebut.
Zazili meminta masyarakat, khususnya warga Desa Batu Kucing, bersabar sembari pemerintah daerah terus mengupayakan langkah-langkah agar pembangunan jembatan dapat direalisasikan.
“Masyarakat di Desa Batu Kucing khususnya harap bersabar. Kita pihak Pemkab Muratara terus berusaha serta masih berkoordinasi dengan BNPB pusat agar pembangunan jembatan gantung di Desa Batu Kucing segera diperbaiki di tahun 2027 mendatang,” ujar Zazili.
Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa perbaikan jembatan masih dalam tahap pengupayaan melalui koordinasi dengan pemerintah pusat. Namun, bagi warga yang setiap hari menghadapi keterbatasan akses, kepastian realisasi pembangunan menjadi hal yang paling dinantikan.
Warga kini berharap koordinasi antara Pemkab Muratara dan BNPB pusat tidak berhenti pada proses administrasi, tetapi berlanjut hingga pembangunan benar-benar terlaksana.
Sebab, selama jembatan belum diperbaiki, masyarakat masih harus menanggung dampak terputusnya akses penghubung tersebut. Kepastian waktu pelaksanaan dan realisasi pembangunan menjadi harapan warga agar aktivitas sosial, ekonomi, serta mobilitas masyarakat Desa Batu Kucing dapat kembali normal.
(Habi)




